Senin, 10 Desember 2012

Pengaruh Iklim dan Cuaca dalam Pertumbuhan Tanaman


LABORATORIUM KLIMATOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN  PRAKTIKUM

ANGGOTA                                       : 1. TATIK WINARSIH
 2. DYAH AYU
 3. ANINDYA NINDY
 4. FARIZ KUSTIAWAN A
 5. SEPTIYAN BINTANG P
 6. RIZKI IQBAL FATONI
ACARA                                             : ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA CUACA
TANGGAL PRAKTIKUM                        : 03 OKTOBER 2012
TANGGAL PENYERAHAN         : 10 OKTOBER 2012

ASISTEN                                           : 1.
                                                              2.











BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Selain di pengaruhi oleh factor tanah produktivitas pertanian juga di pengaruhi oleh cuaca dan iklim.Unsur-unsur yang  termasuk dari cuaca dan iklim ialah unsur yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan yaitu; kelembapan,  intensitas cahaya, curah hujan, dan temperature suhu. Untuk memhasilkan produksi pertanian, kita perlu mengamati segala sesuatu yang terjadi di sekitar lahan pertanian untuk mengkontrol pertumbuhan suatu tumbuhan atau tanaman.
Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan, maupun siklus beberapa tahun. Aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal.
Kondisi iklim suatu lokasi saling berpengaruh dengan lokasi lainnya. Untuk menghasilkan data iklim dan menganalisa resiko iklim yang efektif dan akurat. Data iklim sangat di butuhkan mengidentifikasi kemampuan suatu wilayah untuk pengembangan pertanian. Data iklim yang jelas akan membuka kejelasan gejala cuaca dan iklim di suatu daerah atau lingkungan.

1.2 Tujuan dan Manfaat
1.1.1        Tujuan
1.      Untuk mengetahui cara menghimpun data cuaca dengan baik dan benar.
2.      Untuk mampu menjelaskan dan manganalisis hubungan antar unsur cuaca.
1.1.2        Manfaat
1.      Dapat mengetahui cara menghimpun data cuaca dengan baik dan benar.
2.      Dapat mampu meenjelaskan dan menganalisis hubunbgan antar unsur cuaca.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Kegiatan pertanian selalu berhubungan dengan fluktuasi unsur-unsur cuaca yang mempengaruhi hasil pertanian baik yang bersifat positif (meningkatkan hasil) maupun negatif (menurunkan hasil). Pemantauan unsur-unsur cuaca sangat diperlukan khususnya pada saat pergantian musim, baik antara musim hujan ke kemarau atau sebaliknya. Awal musim hujan sangat menentukan penentuan saat tanam sedangkan awal musim kemarau menentukan tingkat keberhasilan panen, karena akhir musim pertanaman sangat ditentukan oleh ketersediaan air menjelang kemarau (Chasanah, 2010). Secara garis besar manfaat yang diperoleh dalam mempelahari klimatologi yaitu untuk meningkatkan kewaspadaan dari pengaruh iklim yang semakin sulit diprediksi. Dengan diperkirakannya kondisi iklim yang akan terjadi maka dapat dilakukan usaha untuk menyesuaikan dengan kondisi yang akan mungkin terjadi. Selain itu, dapat juga dilakukan pemanfaatan unsur-unsur iklim yang dapat membantu dan memberikan keuntungan. 
TANAH+IKLIM/CUACA+TANAMAN= HASIL TANAMAN. Dari situ dapat dilihat, bahwa ada 3 faktor utama yang menentukan hasil tanaman. Supaya hasil yang diperoleh optimum, maka ketiga factor tersebut juga harus dalam keadaan optimum seimbang. Dengan teknologi tingkat sekarang ini dan kemajuan yang akan datang asalkan tersedia modal, factor tanah dan tanaman sebagian besar dapat dikuasai oleh manusia. Misalnya dengan modal besar dapat memanfaatkan padang pasir atau tanah-tanah masam/bergaram. Juga dengan modal besar dapat dihasilkan jenis tanaman yg dikehendaki (sebaliknya factor iklim). Dalam hal semacam ini Negara yang dikatakan subur makmur akhirnya hanya dapat bertanam 1 kali, walaupun sebetulnya alam memungkinkan untuk dapat bertanam berulang kali dalam 1 tahun juga. Kalau air tersedia mungkin kita dapat bertanam 2 atau 3 kali. Sudah barang tentu supaya kita dapat menguasai dan memanfaatkan hujan tersebut sebaik-baiknya, wataknya harus diketahui benar-benar. ( Soekardi wisnubroto 1986).
   Menurut H. Abdullah (1995). Memasuki tahun 1994 ternyata hujan turun semakin deras sehingga di beberapa daerah mengalami bencana kebanjiran. Bahkan bencana itu telah merusak lahan persawahan di beberapa wilayah yang merupakan pusat produksi beras. Iklim tahun 1994 memang terjadi secara tidak normal dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Besarnya dampak kekeringan ini juga di dorong oleh pemberitaan media massa baik dari surat kabar maupun televise yang gencar memberitakan bencana banjir dan kekeringan di beberapa daerah sehingga menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat.
Menurut Kartojo (1995). Iklim merupakan faktor yang sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Kondisi iklim yang sangat ekstrim misalnya kemarau panjang. akan menimbulkan dampak yang luas baik terhadap tanaman maupun manusia. Data iklim tidak hanya dimanfaatkan oleh pertanian saja. namun juga digunakan untuk keperluan perhubungan dan lingkungan hidup. Data iklim yang sering digunakan dalam meteorology dan geofisika saat ini merupakan hasil pengamatan selama 30 tahun. Sampai sekarang data iklim itu masih di anggap cukup tepat untuk mewakili cirri dan unsur meteorologi. Hujan biasanya turun apabila ada interaksi antara air laut dengan udara. Apabila air laut panas maka udara di atas laut akan lembab. Apabila udara lembab maka hujan akan turun.
Curah hujan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan dan produksi suatu tanaman, sehingga pembudidayaan tanaman perlu di sesuaikan terhadap fluktuasi curah hujan. Namun , karena curahhujan sangat berfluktuatif dan acak, budidaya tanaman seringkali sulit disesuaikan bahkan terlambat untuk di antisipasi perubahan yang tiba-tiba dan ekstrim. Suatu sistem peringatan dini sangat dibutuhkan dalam pembudidayaan tanaman. Hal tersebut dapat di awali dengan membuat dan memanfaatkan model prediksi curah hujan, sehingga gambaran curah hujan beberapa periode ke depan dapat di peroleh lebih awal (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2006).
Jasis dan Krama (1999), Kondisi cuaca ekstrem sampai saatini belum memiliki definisi baku secara nasional. Baru di tingkat internasional dikenal dan disusun laporan cuaca ekstrem. Mengikuti istilah internasional, kondisi cuaca/iklim ekstrem muncul apabila terjadi penyimpangan kondisi udara karena unsur-unsur cuaca (suhu, kelembapan, tekanan, angin, dan curah hujan) beerindikasi menyimpang dari rata-ratanya.
Menurut  Yusmin (2008), Perubahan iklim akan membawa pengaruh terhadap intensitas dampak dan sangat tergantung terhadap penyimpangannya (ekstern atau tidak ekstern). Secara umum dampak penyimpangan iklim, meliputi:
1.      Kegagalan panen tanaman pangan akibat kekeringan.
2.      Kegagalan panen tanaman pangan akibat banjir.
3.      Penurunan produksi holtikultura akibat penyimpangan iklim yang mempengaruhi periode pertumbuhan.
4.      Kebakaran hutan yang memengaruhi produksi kayu dan hasil hutan.
5.      Menurunnya kesediaan air, yang akan mengganggu proses budidaya pertanian.
6.      Kebakaran hutan.
Pertumbuhan tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering di amati baik sebagai indicator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan.  Pertumbuhan tanaman sensitive terhadap factor lingkungan tertentu seperti cahaya,  biasanya tanaman yang mendapat cahaya lebih pendek dari pada yang tidak mendapatkan cahaya. (Tjasjono, 1995)
Skala lokal digunakan untuk mengetahui faktor konvektivitas suatu daerah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui daerah pertumbuhan awan vertikal. Wilson and Scoggins (1976) mengatakan seorang ahli cuaca harus memperhatikan indek slabilitas udara untuk memahami pola cuaca konvektif, apabila udara dalam keadaan labil maka kecenderungannya udara cukup lembab.

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Tempat pelaksanaan kegiatan menganalisis dan interpretasikan data cuaca di ruang II fakultas pertanian Universitas Jember pada jam 07.00 pagi tanggal 3 Oktober 2012.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1        Alat
1.      Kalkulator
2.      Alat tulis

3.2.2        Bahan
1.      Data cuaca
2.      Data iklim

3.3      Cara kerja
1.      Menyiapkan satu seri data unsur-unsur cuaca.
2.      Memilih dua unsur cuaca kemudian memasukkan data tersebut dalam table.
3.      Menentukan satu unsur cuaca sebagai variable bebas (X) dan satu lagi sebagai variable tak bebas (Y), kemudian menghitung variable regresinya.
4.      Selanjutnya Menghitung koefisien regresi dari bentuk hubungan tersebut dan bandingkan nilainya dengan nilai r table.
5.      Mendiskusikan hasil perhitungan dengan anggota kelompok saudara dan membuat kesimpulan.






BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Table hasilpengatan
No.
Xi
Yi
X
Y
(X)(Y)
1
1056
0,44
2,08
-0,13
4,33
0,0169
-0,27
2
1060
0,41
6,08
-0,16
36,97
0,0265
-0,97
3
1048
0,45
-5,92
-0,12
35,05
0,0144
0,71
4
1058
0,45
4,08
-0,28
16,65
0,0784
-1,14
5
1058
0,30
4,08
-0,27
16,65
0,0729
-1,1
6
1059
0,41
5,08
-0,16
25,81
0,0256
-0,81
7
1049
0,56
-4,92
-0,01
24,21
0,0001
0,0492
8
1058
0,76
4,08
0,19
16,65
0,0361
0,78
9
1060
0,91
6,08
0,34
36,97
0,1156
2,07
10
1048
0,99
-5,92
0,42
35,05
0,1764
-2,49
11
1047
0,64
-6,92
0,07
47,89
0,0049
-0,48
12
1046
0,47
-7,92
-0,1
62,73
0,01
0,79
Total
12647
6,79
-0,04
-0,21
358,96
0,5869
2,862
Rerata
1053,92
0,57
-0,003
-0,02
29,91
0,049
0,2385





4.2 Pembahasan
Regresi digunakn untuk membedakan antara variable yang di pengaruhi dan yang mempngaruhi. Kolerasi adalah penggabangan dua unsur yang saling berpengaruh. Tingkat perubahan cuaca yang tidak menentu sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bahkan pada tingkat produksi tanaman. Dari materi-materi yang saya peroleh dari menganalisis dan menginterpretasi cuaca, saya dapat mengetahui seberapa besar nilai cuaca yang mempengaruhi pertumbuhuan tanaman dengan menggunakan rumus regresi dan korelasi.
Untuk mencari persamaan regresi kita dapat menggunakan rumus  y=a+bx dengan mencari a dan b menggunakan rumus  a=Yi-bXi  dan b=Σ(X)(Y)/Σ  , sedangkan untuk mencari koefisen korelasi menggunakan rumus:                  r =Σ(X)(Y)/√(ΣX²)(ΣY²)



















BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada tujuan, hasil pengamatan, dan pembahasan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.    Setelah dilakukan penghitungan, semakin tinggi tekanan udara, semakin tinggi pula kecepatan anginnya.
2.    Tidak ada korelasi, jika hasil T hitung lebih kecil dari ketetepan.
3.    Rumus mencari persamaan regresi dan koefisien korelasi dapat digunakan pada semua unsurunsur cuaca yang lainnya.

5.2 Saran
Sebaiknya praktikan memasuki ruangan tepat waktu, agar pelaksanaan kegiatan tidak terjadi penundaan.


DAFTAR PUTAKA

Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.2006. Penyusunan Model Prediksi Curah Hujan dengan Teknik Analisis Jaringan Syaraf di Sentra Produksi Padi di Jawa Barat dan Banten.Jurnal Tanah dan iklim: 11 dan 12.

Fitter, A. H dan M. Hay. 1998. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tjasjono. 1995. PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN BERBASIS SISTEM PERTANIAN ORGANIK1.


Xu dan Chan.2OO5.Validasi Model Pendugaan Evapotranspirasi: Upaya Melengkapi Sistem Database Iklim Nasional.Jurnal Tanah dan iklim.: 1 dan 2.

Yusmin.2008.Kajian Indeks Stabilitas Udara Model KMA http://www.dirgantara-lapan.or.id (22 Oktober 2010).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar